Green Update

Ancaman Mangrove : Rokok, Permasalahan Pesisir yang Terlupakan

Indonesia tidak pernah kehabisan pantai – pantai cantik untuk dikunjungi, tidak jarang ditemukan pantai – pantai baru yang masih asri belum pernah tersentuh oleh tangan manusia. Namun sayangnya banyak pantai di Indonesia memiliki satu kesamaan, yakni berlimpahnya sampah yang ditinggalkan oleh manusia. 

Mengutip dari laporan yang dikeluarkan oleh Ocean Conservancy pada tahun 2022, sampah terbanyak yang ditemukan di daerah pesisir, seperti hutan mangrove, adalah bungkus makanan (bungkus permen, keripik, dan sebagainya). Selain bungkus makanan ditemukan juga seperti kantong kresek, peralatan makan plastik, maupun botol plastik. Sampah – sampah tersebut datang ke pesisir baik dari daratan (sungai atau saluran pembuangan), laut (dari aktivitas pemancingan maupun infrastruktur di laut), maupun ditinggalkan langsung di pantai (Asensio-Montesinos dkk, 2021). Satu hal yang menarik adalah sampah puntung rokok sebagai runner up dalam penyumbang sampah terbanyak yang ditemukan di daerah pesisir seperti ekosistem mangrove.

 Penelitian mengenai rokok terkait kesehatan sudah banyak sekali dan sudah menjadi salah satu concern utama di dunia. Kanker, sakit paru – paru, stroke, dan penyakit kronis lainnya timbul akibat ulah rokok ini. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa setiap tahunnya lebih dari 8 juta orang meninggal akibat rokok, 7 juta adalah perokok aktif dan 1,2 juta merupakan perokok pasif. Berdasarkan data World Bank, Indonesia termasuk 15 besar negara dengan persentase perokok terbanyak di Indonesia dengan 38% dimana 71% laki-laki Indonesia merokok. Penelitian mengenai hubungan merokok dengan elemen lain seperti ekonomi sudah banyak diteliti. WHO menyatakan bahwa 80 perokok hidup di negara rendah-menengah dan berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2022 ditemukan bahwa rokok menjadi pengeluaran rumah tangga tertinggi kedua. Mirisnya terkadang kita lupa bahwa punting rokok yang merupakan bahan sisa dari konsumsi rokok menjadi salah satu permasalahan lingkungan saat ini.

Secara angka, Ocean Conservancy menyatakan bahwa pada tahun 2022 mereka mengumpulkan setidaknya lebih dari 1 juta puntung rokok dalam kegiatan beach cleanup. Angka tersebut hanyalah puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar. Terkadang kita menganggap bahwa puntung rokok akan terurai sendiri karena “bukan plastik”. Namun jika dilihat lebih dalam, puntung rokok terdiri dari kertas, abu, tembakau sisa, dan mayoritas adalah cellulose acetate fibers yang terbuat dari polymer semi sintetis. Belum lagi 7.000 bahan kimia seperti nikotin, benzene, toluene, dan masih banyak lagi yang banyak dari bahan kimia tersebut bersifat karsinogenik atau zat penyebab kanker. 

Bagaimana puntung rokok bisa menyebabkan permasalah lingkungan? Puntung rokok yang dibuang sembarangan tersebut setelah sekian lama atau menjadi mikroplastik – mikroplastik yang menyebarkan bahan kimia berbahaya ke lingkungan kita. Mikroplastik yang terkandung bahan kimia tersebut dapat mengkontaminasi tanah, tanaman, dan kualitas air. Salah satu hal yang berbahaya adalah mikroplastik akibat puntung rokok dikonsumsi oleh hewan seperti ikan laut yang akan dikonsumsi oleh manusia.

Kesimpulannya adalah terkadang kita lantang menyuarakan untuk tidak memakai single used plastic seperti sedotan sebagai dukungan kita terhadap kehidupan laut dan pesisir, salah satunya adalah ekosistem mangrove. Namun terkadang kita tidak tahu atau lupa bahwa rokok menjadi permasalahan besar yang perlu kita hadapi bersama. Saran penulis terutama kepada para perokok adalah untuk mencoba untuk berhenti merokok untuk kebaikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. 

Ditulis oleh Hamzah Yasfi Akbar Sholihin


Mangrove Threat: Cigarettes, A Neglected Coastal Issue

Indonesia never runs out of beautiful beaches to visit, and it’s not uncommon to discover untouched, pristine shores untouched by human hands. However, many Indonesian beaches share a common problem – they are littered with an abundance of trash left behind by people.

According to a report by Ocean Conservancy in 2022, the most common type of waste found in coastal areas, such as mangrove forests, is food packaging (candy wrappers, chips bags, etc.). Other types of waste include plastic bags, disposable eating utensils, and plastic bottles. These pollutants make their way to the coast from inland areas (rivers or drainage channels), the sea (from fishing activities and marine infrastructure), or are directly abandoned on the beaches (Asensio-Montesinos et al., 2021). Interestingly, cigarette butts are the runner-up in contributing the most waste found in coastal areas like mangrove ecosystems.

The health-related research on cigarettes has been extensive and is a major global concern. Smoking has been linked to cancer, lung disease, stroke, and other chronic illnesses. The World Health Organization (WHO) states that over 8 million people die each year due to smoking, with 7 million being active smokers and 1.2 million being passive smokers. According to data from the World Bank, Indonesia ranks among the top 15 countries with the highest percentage of smokers, with 38% of the population being smokers, and 71% of Indonesian men smoking. The economic connection to smoking has also been widely studied. WHO reports that 80% of smokers live in low and middle-income countries, and the 2022 National Socioeconomic Survey (SUSENAS) found that cigarettes were the second-highest household expenditure in Indonesia. Unfortunately, we sometimes forget that cigarette butts, which are residual waste from smoking, have become one of the current environmental issues.

In terms of numbers, Ocean Conservancy states that in 2022, they collected over 1 million cigarette butts during beach cleanup activities. However, this figure represents just the tip of the iceberg of a larger problem. It’s easy to assume that cigarette butts will decompose on their own because “they are not plastic.” However, upon closer inspection, cigarette butts consist of paper, ash, leftover tobacco, and are primarily made of cellulose acetate fibers, which are semi-synthetic polymers. Not to mention the 7,000 chemicals found in cigarettes, such as nicotine, benzene, toluene, and many others, many of which are carcinogenic or cancer-causing substances.

So, how do cigarette butts pose an environmental problem? Improperly discarded cigarette butts eventually break down into microplastics, releasing harmful chemicals into our environment. These microplastics can contaminate soil, plants, and water quality. One significant danger is that microplastics from cigarette butts can be consumed by marine animals, such as fish, which can then end up being consumed by humans.

In conclusion, we often loudly advocate against the use of single-use plastics like straws in support of marine and coastal life, including mangrove ecosystems. However, we sometimes overlook or forget that cigarettes pose a significant problem that we must address together. The author’s suggestion, especially to smokers, is to try to quit smoking for the sake of themselves, others, and the environment.

Written by Hamzah Yasfi Akbar Sholihin

Related posts

Menyelamatkan Keindahan Pesisir Pantai Indonesia dari Ancaman Sampah Laut dan Dampaknya

editorweb

Perayaan Ulang Tahun ke-165 PT Brinks Solution Indonesia dengan Penanaman 165 Mangrove Rhizophora Mucronata

editorweb

PT Solusi Energy Nusantara Memperingati Ulang Tahun ke-9 dengan Penanaman 500 Mangrove Jenis Rhizophora Mucronata

editorweb

Leave a Comment