Mangrove Impact Fellowship 2026, yang diselenggarakan oleh Yayasan Mangrove Indonesia Lestari, menjadi acara yang luar biasa dengan berkumpulnya individu-individu penuh semangat dari berbagai penjuru dunia yang berkomitmen untuk memberikan dampak signifikan dalam konservasi mangrove. Acara ini berlangsung dari 7 hingga 12 Februari 2026, dan diikuti oleh 14 peserta dari berbagai negara, termasuk Inggris, Gambia, Ghana, Vietnam, India, Pakistan, Bangladesh, Prancis, Indonesia, Maroko, dan Myanmar.

Pada 7 Februari, acara dibuka secara resmi oleh Nikolas Nugroho S, S.Hut., M.T., Direktur Rehabilitasi Mangrove dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia. Beliau menekankan pentingnya ekosistem mangrove dan menggarisbawahi tujuan kolaboratif dari fellowship ini. Setelah sambutannya, para peserta diperkenalkan dengan berbagai wawasan mengenai konservasi mangrove melalui serangkaian kuliah daring. Salah satu sesi kunci dihadiri oleh Paundra Hanutama, Pendiri Yayasan, yang berbagi semangatnya dalam pelestarian mangrove dan menekankan pentingnya kerjasama global untuk praktik lingkungan yang berkelanjutan.
Pada 10 Februari, fellowship ini memasuki tahap yang menarik dengan diadakannya workshop mengenai praktik berkelanjutan di Artotel Gelora Senayan. Di sini, peserta mempelajari secara langsung tentang praktik terbaik dalam konservasi lingkungan. Mereka juga berkesempatan untuk mengunjungi Merlyn Park Hotel, tempat peluncuran Platform Mandara dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenhut). Paundra Hanutama menegaskan, “Platform ini akan menjadi alat penting untuk meningkatkan upaya konservasi di seluruh Indonesia, khususnya dalam restorasi mangrove.” Sesi ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk merasakan aplikasi nyata dari pariwisata berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.
Fellowship ini juga mendapat kehormatan dari Audrey Utoyo, English News Anchor of WORLD TVRI dan pembicara dari Harvard University, yang berbicara tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam upaya konservasi global. Audrey berbagi pengalaman berharga tentang tantangan dan manfaat bekerja dalam lingkungan multikultural, serta pentingnya membangun kemitraan internasional untuk mendukung tujuan konservasi jangka panjang. Aditi Jadhav dari Schiller International University Paris, seorang konsultan keberlanjutan, juga memberikan wawasan tentang cara mengintegrasikan praktik berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari, yang memperkaya pengalaman fellowship ini.

Bagian praktis dari fellowship ini berlangsung pada 11 hingga 12 Februari dengan kegiatan langsung seperti penanaman mangrove dan aktivitas monitoring di Kawasan Konservasi Pulau Tidung Kecil. Sesi luar ruangan ini membantu peserta mendapatkan pengalaman praktis sambil mendorong pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Bayu Pamungkas dari IPB University, seorang konsultan keberlanjutan, memberikan wawasan tentang cara mengintegrasikan praktik berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari, yang memperkaya pengalaman fellowship ini.
Upacara penutupan acara yang berlangsung pada 12 Februari menampilkan pemberian sertifikat dan penghargaan kepada peserta yang telah berkontribusi dalam upaya konservasi mangrove. Sebagaimana yang disampaikan oleh Andi Dala Jemma, S.Pi., M.P, Kepala Pusat Budidaya dan Konservasi Laut PBKL, “Melalui fellowship ini, saya menyaksikan dampak mendalam yang dapat kita ciptakan terhadap lingkungan ketika kita bekerja bersama melintasi batas negara.” Mangrove Impact Fellowship 2026 tidak hanya memperkuat kolaborasi global tetapi juga meletakkan dasar untuk inisiatif-inisiatif masa depan yang bertujuan untuk melindungi ekosistem yang sangat penting ini. Paundra Hanutama menutup acara dengan menyatakan, “Ini baru permulaan. Kami bertujuan untuk terus membina generasi baru pemimpin lingkungan yang siap memimpin perubahan dalam konservasi mangrove di seluruh dunia.”Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.mangrovejakarta.id dan www.yayasanmangroveindonesia.com
