Green Update

[Ind] Destinasi Wisata Mangrove Jakarta

Pada tahun 2017, salah satu sumber devisa terbesar kedua Indonesia berasal dari industri pariwisata. Banyak jenis dan lokasi tujuan destinasi wisata di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan potensi alam yang sangat luar biasa kaya. Tapi banyak dari kita tidak tahu, bahwa sebagian besarnya berasal dari wisata alam yang salah satunya adalah ekowisata mangrove. 

Ekowisata secara umum dapat diartikan sebagai wisata berbasis alam. Kajian mengenai ekowisata sudah ada setidaknya dari tahun 1990, yang mendefinisikan ekowisata adalah kegiatan yang memanfaatkan alam yang dilindungi atau dikonservasi sebagai tujuan kegiatan wisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Destinasi wisata pegunungan, pantai, hingga ke hutan adalah contoh dari ekowisata. Daripada itu, ekowisata mangrove adalah kegiatan wisata yang memanfaatkan hutan mangrove dan segala sumberdaya alam di dalamnya secara lestari. Hutan mangrove yang unik dan berbeda dibanding hutan lain memberikan potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata alam.

Selain keasrian alam, hutan mangrove dapat memberikan pengalaman yang unik bagi pengunjung ekowisata mangrove. Seperti yang kita ketahui, mangrove adalah tumbuhan yang memiliki ciri fisik yang unik dibandingkan dengan tumbuhan atau pohon pada umumnya. Bentuk akar yang muncul dari tanah dapat memikat perhatian. Jenis mangrove yang beraneka ragam  dan bentuk buah atau propagul yang unik juga mampu memberikan pengetahuan ke pengunjung mengenai mangrove itu sendiri. Tidak hanya itu, kita dapat melihat biota-biota eksotik yang menambah atraksi dari ekowisata mangrove. ular, burung, kepiting, hingga ikan yang unik dapat kita temui di hutan mangrove. Semua potensi alam di hutan mangrove mampu memberikan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung atau wisatawan. 

Sumber : travel.detik.com 

Dalam pembangunannya, sebagian kegiatan ekowisata mangrove didukung oleh banyak pihak, seperti pemerintah hingga pihak swasta. Meskipun ekowisata mangrove notabene dikelola oleh masyarakat, namun pada tahap permulaan atau pengembangannya mendapatkan support dari berbagai pihak. Dukungan tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan ekowisata mangrove. Seperti pembangunan tracking path, papan informasi, toilet umum, pembangunan icon, hingga sarana pendukung lain. Dukungan tersebut bisa berasal dari APBD atau APBN dari pemerintah hingga berbentuk dana CSR atau Corporate Social Responsibility dari perusahaan. Meskipun mendapat dukungan dari beberapa pihak, ekowisata mangrove juga mendapatkan pemasukan untuk pengembangannya dari pengunjung wisata. 

Lokasi ekowisata mangrove tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk di provinsi Jakarta. Tujuan ekowisata mangrove di Jakarta ada yang berlokasi di pesisir teluk Jakarta dan di beberapa pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu. Destinasi ekowisata mangrove PIK adalah salah satu yang terkenal di pesisir Jakarta yang berlokasi di Jalan Katamaran Indah 1, Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Selain pemandangan hutan mangrove yang asri banyak spot-spot bersantai yang menarik dengan didukung adanya tempat makan dan minum Harga tiket masuk berkisar antara Rp.10.000 hingga Rp.25.000. Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi situs http://hutanmangrovejakarta.com.

Destinasi ekowisata mangrove juga ada di beberapa pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu. Pulau Tidung, Pulau Pramuka, Pulau Pari adalah beberapa contoh tujuan ekowisata mangrove. Untuk menjangkau lokasi-lokasi tersebut, pengunjung perlu menempuh perjalanan via laut dengan kapal kayu dari Kaliadem atau speed boat dari marina, Ancol. Destinasi ekowisata mangrove dapat menjadi pilihan tujuan wisata alternatif di Jakarta. 

Komunitas konservasi mangrove berperan dalam pengembangan ekowisata mangrove. Banyak fungsi-fungsi komunitas yang bisa saling bersinergi dengan pihak pengelola ekowisata mangrove. Seperti memperluas jaringan dan jangkauan, pengembangan usaha, kerja sama pengembangan usaha, bahkan hingga merintis pembentukan ekowisata itu sendiri. Fungsi memperluas jaringan bisa dilakukan melalui sosial media. Selain membantu mempromosikan ekowisata mangrove, kiriman tersebut bisa meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai eksistensi hutan mangrove. Kegiatan yang bersifat kolaboratif juga dianggap penting dilakukan. Komunitas dapat menjadi wadah aspirasi masyarakat dalam menyampaikan saran untuk pengembangan ekowisata mangrove melalui kegiatan-kegiatannya. Melalui kegiatan kolaboratif tersebut, pengelola ekowisata bisa bertukar informasi termasuk menerima saran pengembangan ekowisata. Pengembangan juga bisa berupa dukungan dana untuk pengembangan ekowisata mangrove. Salah satu jenis dana yang bisa digunakan adalah dana CSR atau Corporate Social Responsibility. Dana tersebut bisa berasal dari perusahaan swasta atau pihak lain yang ingin menyalurkan dana hibah untuk kegiatan konservasi mangrove. Ada banyak fungsi komunitas pada kegiatan ekowisata mangrove. 

Pada tahun 2014, Founder Komunitas Mangrove Jakarta Paundra Hanutama, mendapatkan dana CSR atau Corporate Social Responsibility. Pada saat itu, Paundra juga menjabat sebagai Senior Marketing Communications Manager ASTON Ancol Jakarta. Ketertarikannya pada mangrove, membuatnya memutuskan untuk menyalurkan dana tersebut untuk kegiatan rehabilitasi mangrove di Pulau Harapan – Pulau Seribu dengan melakukan penanaman 1000 pohon mangrove dan 1000 coral dengan melibatkan warga pesisir dan juga Youth Club dari London School of Public Relations. Dengan mengetahui banyak manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi dari mangrove, Paundra Hanutama terus mengembangkan ketertarikannya di dunia konservasi mangrove dengan membuat sebuah komunitas yang melibatkan beberapa aktifis muda. Awal berdirinya Komunitas Mangrove Jakarta bertepatan pada Hari Bumi yaitu 24 April 2020. Dengan dukungan dari Bayu Pamungkas yang saat ini menjabat sebagai co-founder komunitas ini, komunitas ini semakin gencar melakukan aksi lingkungan hidup baik dalam segi penanaman mangrove langsung atau menyebarkan informasi melalui platform podcast dan juga webinar. Selain Bayu Pamungkas, komunitas ini juga didukung oleh aktifis muda yang bergerak pada konservasi dugong dan lamun Galih Hakim Antarnusa, Hamzah Yasfi Akbar Sholihin aktifis muda yang berfokus ada kesehatan masyarakat. Kedepannya diharapkan komunitas ini bisa menjadi salah satu komunitas yang berkomitmen pada konservasi mangrove khususnya di Jakarta dengan memberikan suguhan event yang fun dan educational, serta dapat mendukung kegiatan ekowisata mangrove khususnya di Jakarta.

Written by Bayu Pamungkas

Edited by Paundra Hanutama

Related posts

Smart Discussion with Earth Hour Tangerang

editorweb

Mangroves, The Guardian of The Sea

editorweb

Coral reefs need your hand!

admin

Leave a Comment